Forum Diskusi kita

Mengenang Linggarjati, Memuliakan Sjahrir Sang Negosiator
2009-10-07 06:50:26
Den Haag - Dalam situasi sangat genting, peran Sjahrir yang berhasil membukukan pengakuan de facto
kedaulatan , menjadi pijakan penyelamat proklamasi. Sudah selayaknya Sjahrir dimuliakan.

Hal itu mengemuka dalam seminar dan pameran mengenai Konferensi Linggarjati bertema A Bridge to the
Future of Bilateral Relations between Indonesia and the Netherlands di Koninklijke Bibliotheek
(Perpustakaan Nasional), Den Haag, 28/9/2009.

Peran Sjahrir dalam perundingan Linggarjati dinilai sangat besar pengaruhnya dalam proses
kemerdekaan dan sekaligus menjadi peletak jembatan hubungan yang sejajar dan bermartabat antara
Indonesia moderen dengan Belanda.

"Sjahrir termasuk salah satu founding fathers terpenting Republik Indonesia," ujar sejarawan Belanda
Frederik Erens, MA, salah satu pembicara seminar, yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag
bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri RI c.q. Ditjen IDP, Arsip Nasional RI (ANRI), serta
sejumlah instansi dan LSM Belanda.

Dalam usia republik yang baru beberapa bulan dengan segala keterbatasannya, Sjahrir berhasil
membukukan capaian penting untuk menyambung nafas republik, yakni status internasional dan pengakuan
kedaulatan secara de facto.

"Sjahrir melihat kesepakatan Linggarjati sebagai langkah awal yang sangat diperlukan, demi memenangi
kedaulatan penuh," terang Erens.

Menurut Erens, dengan langkah awal itu Indonesia bisa mulai membangun demokrasi. Bagi Sjahrir
demokratisasi adalah tujuan sangat penting sebagaimana kebijakan kesejahteraan, di mana rakyat
Indonesia akan menikmatinya.

"Generasi muda Belanda dan Indonesia mungkin dapat belajar dari Sjahrir dan semangat Linggarjati,
yakni bahwa saling percaya dan respek serta pengertian tulus atas kesulitan satu sama lain dapat
menjembatani tiap-tiap perbedaan," demikian Erens.

Kekuatan Diplomasi

Betapa penting capaian perundingan Linggarjati bagi eksistensi republik juga disampaikan Dr. dr.
Rushdy Hoesein, M.Hum, seorang dokter sekaligus peminat hukum dan sejarah, yang meraih doktor
sejarah di Universitas Indonesia (UI).

Menurut Hoesein, pemerintah Republik Indonesia menyadari bahwa kekuatan angkatan bersenjatanya belum
mampu mengimbangi kekuatan militer Belanda. Berperang terbuka melawan Belanda berarti kerugian besar
di pihak Indonesia.

"Kekuatan tidak berimbang itu mungkin telah mendorong Soekarno-Hatta untuk mengambil keputusan
signifikan menerima draf perjanjian," terang Hoesein.

Ditambahkan Hoesein bahwa sejarah telah membuktikan perjuangan diplomasi Indonesia adalah ujung
tombak untuk memantapkan dekolonisasi dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17/8/1945.

"Pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 27/12/1949 hanyalah realitas politik bahwa proklamasi
kemerdekaan telah diakui oleh dunia internasional," demikian Hoesein.

Ramai

Sementara itu material pameran Konferensi Linggarjati yang digelar selama 3 pekan (8-29/9/2009)
mendapat perhatian luas masyarakat.

Di antara material yang dipamerkan adalah dokumen asli dan foto-foto bersumber dari Arsip Nasional
Republik Indonesia (ANRI) Jakarta, Nationaal Archiefs Nederland Den Haag, serta dari Stichting
Indisch Erfgoed (Yayasan Warisan Hindia Belanda) dan Stichting Vrienden van Linggarjati (Yayasan
Sahabat Linggarjati).

Kini Indonesia-Belanda mencatat bahwa perundingan Linggarjati adalah kontak diplomasi pertama antara
dua negara sederajat dan berdaulat, serta jembatan pertama menuju hubungan bilateral kedua negara. 
           
Tulisan ini dikirimkan oleh: Admin